Pesantren Hijau, Gerakan Merawat Alam dan Lingkungan

Ilustrasi. Para santri Pondok Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 di Desa Wadas, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, menanam pohon. (Sumber: ANTARA/Heru Suyitno)

Oleh Wella Andany, Jurnalis KompasTV (sumber tulisan: Website KompasTV)

Di tengah ancaman krisis iklim dan ancaman kerusakan lingkungan yang kian nyata, butuh kerja sama menyeluruh tak bertumpu pada kebijakan pemerintah semata. Gema menjaga lingkungan perlu lahir dari elemen masyarakat termasuk institusi pendidikan.

Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan tertua di Indonesia memegang posisi yang sangat penting untuk menjaga kelestarian alam. Peran pesantren sangat strategis sebagai institusi pendidikan agama; namun dapat juga menjadi motor penggerak transformasi sosial bagi peradaban masyarakat.

Pesantren yang umumnya berada di wilayah pedesaan dengan kepemilikan lahan yang luas membuka peluang emas untuk menjaga konservasi alam dengan pengembangan ketahanan pangan secara mandiri.

Berdasarkan data Kementerian Agama per Oktober 2025, kekuatan ini tercermin dari keberadaan 42.391 pesantren yang mengasuh sekitar 6.267.741 santri di seluruh penjuru Nusantara. Jutaan jiwa ini bukanlah sekadar angka statistik, melainkan agen perubahan ekologis potensial yang dapat menggerakkan kesadaran lingkungan dari bilik-bilik pesantren ke tengah-tengah umat.

Direktur Komunikasi Dan Kemitraan Yayasan Kehati Rika Anggraini menilai ajaran Islam yang sejalan dengan pelestarian lingkungan menjadikan pesantren pintu masuk dalam menanamkan nilai kebaikan tak hanya kepada sesama manusia, namun juga kepada alam.

“Pesantren ini kan berbasis keagamaan, agama itu selalu menjadi secara tradisi, secara kondisi masyarakat kita sebagai salah satu institusi yang bisa dipercaya, sehingga dengan pendekatan agama lebih bisa masuk pemikiran-pemikiran tentang lingkungan hidup kepada siswa-siswa di pesantren, dan itulah sebetulnya pendekatan  tersebut yang bisa menjadi pintu masuk,” katanya.

Gerakan Ekopesantren

Program Ekopesantren merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan Islam untuk mewujudkan komunitas pesantren yang hijau, mandiri, dan ramah lingkungan. Sejak 2008 program kerja Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Kementerian Agama ini berjalan, gerakan tersebut kemudian dilanjutkan dan dikembangkan secara masif oleh Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI UNAS).

Program ini mensinergikan ajaran Islam dengan sains ekologi guna menjawab tantangan nyata seperti kerusakan alam dan perubahan iklim. Melalui 10 kriteria program ekopesantren—yang diimplementasikan lewat pendidikan, pelatihan, seminar, dan sistem penilaian mandiri (web-tracking)—gerakan ini berkomitmen mencetak generasi muda muslim yang beriman, tangguh, serta mampu mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

Ke-10 program Ekopesantren meliputi Kurikulum Berbasis Lingkungan, Fiqih Lingkungan, Peningkatan SDM, Program Air, Program Energi, Pengelolaan Lahan Pesantren, Pengelolaan Limbah dan Sampah, Hidup Sehat, Transportasi, dan Pelestarian Keragaman Hayati.

Hingga Mei 2026, sudah ada 50 pesantren hijau yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra. Ekopesantren telah diakui oleh program lingkungan hidup PBB (UNEP) sebagai model peta jalan gaya hidup berkelanjutan berbasis budaya dan agama, juga telah dipaparkan dalam Konferensi Iklim PBB, COP-27 di Mesir tahun 2022.

Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional sekaligus Inisiator Program Ekopesantren, Fachruddin Majeri Mangunjaya menyebut keyakinan merupakan salah satu faktor yang mengubah perilaku.

“Bisa juga tidak akan ada perburuan karena dia yakin bahwa agama melarang bahwa perburuan itu, bahwa agama melarang perbuatan yang merusak lingkungan, membakar lahan dan sebagainya. Oleh sebab itu, kami juga men-channeling kepada yang punya otoritas mengenai fatwa yang terkait dengan keyakinan,” tutur Fachruddin.

Garda Ketahanan Pangan

Kemandirian dan ketahanan pangan dalam konsep Ekopesantren diterapkan oleh Pondok Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido di Bogor, Jawa Barat. Di sini para santri diajarkan untuk memanfaatkan potensi lahan untuk mereduksi ketergantungan pangan dari luar, menekan emisi karbon rantai pasok, sekaligus menyediakan asupan nutrisi yang sehat bagi ratusan santrinya.

Pesantren yang berbatasan dengan Sukabumi ini berhasil menyulap lahan di sekitar area pondok menjadi kawasan produktif dengan memadukan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Mereka membudidayakan berbagai jenis sayuran, tanaman hias, hinga obat-obatan secara organik. 

Pengasuh Ponpes Daarul Uluum Lido, Bogor, Mulyadi, mengatakan anak didiknya membuktikan diri tak hanya mumpuni dalam ilmu agama, namun juga mandiri pangan sebagai bentuk dakwah mencintai lingkungan.

“Kami berpikir ke depan semua santri harus punya pengalaman dan ilmu tentang ketahanan pangan agar mereka bisa mandiri. Satu sisi dakwah, satu sisi mereka juga punya ketahanan pangan. Ini menjadi contoh untuk masyarakat dan juga seluruh santri atau siswa yang lain bahwa santri pun bisa menjaga ketahanan pangan,” ujar Mulyadi.

Selain itu, juga terbentuk ekonomi sirkular lewat pemanfaatan limbah atau kotoran ternak seperti ayam dan bebek. Kotoran dari sektor peternakan dan sisa makanan dapur diolah kembali menggunakan komposter menjadi pupuk organik, yang kemudian digunakan untuk menyuburkan kembali lahan pertanian mereka. Pupuk yang dihasilkan juga menghasilkan secara ekonomi.

Melalui keberhasilan di Pesantren  Daarul Uluum Lido, poin ketahanan pangan dalam Ekopesantren terbukti bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan sebuah solusi nyata yang mengantarkan pesantren menjadi institusi yang berdaya, mandiri, dan lestari.

Ketahanan Energi

Di Pondok Pesantren Darul Afkar di Pandeglang, Banten, setengah dari kebutuhan energi para santri bertumpu pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikelola langsung oleh para santri. Lebih dari 10 keping panel surya menjadi bagian penting dari upaya menjaga kemandirian energi yang menerangi asrama santri.

Sofyan Sauri, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Afkar, menyebut berada di ujung barat Pulau Jawa, aliran listrik konvensional tak selalu stabil dan dengan keberadaan PLTS kegiatan di pondok tak terhenti meski listrik tak mengalir. Adzan tetap dapat dikumandangkan.

“Pernah suatu hari, kebetulan di masyarakat setempat itu sedang padam listrik. Kemudian pas tepat di waktu Isya itu, anak santri lagi adzan. Nah tentu, warga setempat bertanya-tanya dong, kok di sana bisa adzan, kenapa ya? Kami jelaskan bahwasannya di sini ada panel surya sebagai pengganti listrik ketika listrik padam di sini,” ujar Sofyan.

Penggunaan energi bersih tak hanya ramah lingkungan, namun juga ramah kantong. Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Afkar, Mulyadi, menyebut penghematan hingga beberapa ratus ribu per bulannya sangat membantu biaya operasional pesantren. Ponpes Darul Afkar sendiri membebaskan biaya kepada para santri, hanya mengenakan iuran sukarela Rp50 ribu per bulan. 

Menurutnya, setiap penghematan sangat berarti untuk membantu operasional atau perbaikan bangunan yang saat ini keadaannya cukup mengkhawatirkan. 

“Rata-rata santri yang masuk ke sini ekonominya kurang lah gitu. Selain usianya sudah lama disini sering gempa bu sering gempa, musibah gempa bumi jadi banyak bangunan yang mungkin harus direnovasi seperti itu, kayaknya sudah mulai mengkhawatirkan,” kata Mulyadi.

Keberadaan pesantren hijau yang terus bertumbuh harus dirawat bersama. Semangat penyelamatan bumi semestinya tidak hanya lahir dari ruang-ruang diskusi dan kebijakan pemerintah, tetapi juga tumbuh dari kesadaran serta gerakan masyarakat akar rumput.

Melalui sinergi antara tradisi intelektual Islam, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, dan semangat militan jutaan santri di akar rumput, gerakan ini berpotensi membangun pondasi kokoh bagi lahirnya peradaban baru. Sebuah generasi masa depan yang tidak hanya saleh secara ritual dan spiritual di hadapan Sang Pencipta, tetapi juga saleh secara ekologis dalam menjaga amanah kelestarian alam semesta sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Translate »