Jakarta, (Humas UNAS) – Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP) bersama Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional (UNAS) menerima kunjungan delegasi Yayasan Diraja Sultan Mizan (YDSM), Malaysia, dalam rangka Lawatan Kerja Program Ekopesantren Indonesia–Malaysia pada 10–11 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam pengembangan program pendidikan Islam yang berorientasi pada kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Lawatan kerja diawali dengan kegiatan penyambutan delegasi YDSM di Universitas Nasional pada Senin, 10 Agustus 2026. Delegasi YDSM dipimpin oleh Datuk H. Muhammad Fadli bin Yusuf, bersama sejumlah pengurus dan anggota lembaga pemegang amanah YDSM. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt., Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, M.Si., Wakil Dekan Dr. Vivitri Dewi Prasasty, M.Si.
Kemudian, Ketua Program Studi Biologi Dra. Noverita, M.Si, Ketua Program Studi Agroteknologi Dr. Tengku Laila Kamaliah, S.P., M.Agr.Sc, para dosen dilingkungan FBP dan jajaran PPI UNAS serta perwakilan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.
Dekan FBP sekaligus Ketua PPI UNAS, Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kunjungan YDSM merupakan momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus bertukar pengalaman mengenai pengembangan Ekopesantren di kedua negara.
Menurutnya, pesantren memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran lingkungan karena merupakan lembaga pendidikan yang tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga tumbuh dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Melihat program ekopesantren di Indonesia dan kita tahu pesantren ini sudah lama melekat sebagai lembaga pendidikan agama Islam di Indonesia,” ujar Fachruddin di Ruang Exhibition.
Ia menjelaskan, gagasan Ekopesantren di Indonesia berkembang seiring dengan perhatian terhadap konsep Education for Sustainable Development (ESD). Menurutnya, pesantren sebenarnya telah menjalankan berbagai praktik yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan, namun diperlukan penguatan melalui jejaring, pendampingan, pendidikan, serta indikator yang dapat menjadi acuan bersama.
Fachruddin juga menegaskan bahwa pengembangan Ekopesantren tidak hanya berhenti pada lingkungan pesantren, tetapi dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas dalam membangun gaya hidup berkelanjutan berbasis nilai, budaya, dan spiritualitas.
Ia juga memaparkan perjalanan program Ekopesantren yang dikembangkan UNAS. Program tersebut telah melibatkan sekitar 50 pondok pesantren yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Pendampingan dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan, lokakarya, pembelajaran daring, hingga pengembangan sistem penilaian dan pemberian penghargaan bagi pesantren yang memiliki praktik lingkungan terbaik.
Menuju Kolaborasi Ekopesantren Indonesia–Malaysia
Lawatan kerja selama dua hari ini menegaskan adanya ruang kolaborasi yang semakin terbuka antara UNAS dan YDSM dalam pengembangan pendidikan Islam yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Wakil Rektor UNAS Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt., menyampaikan apresiasi atas kunjungan delegasi YDSM Malaysia ke Universitas Nasional. Ia menilai Lawatan Kerja Program Ekopesantren Indonesia–Malaysia sebagai kesempatan strategis untuk memperkuat hubungan kelembagaan sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara UNAS dan YDSM.

“Ini adalah satu kesempatan, satu opportunity yang baik buat kami di UNAS untuk kita bisa nanti melanjutkan lagi dengan kegiatan-kegiatan yang jauh lebih baik dan lebih bermanfaat bagi seluruh umat manusia,” ujar Prof. Ernawati dalam sambutannya.
Prof. Ernawati juga melihat bahwa kerja sama Ekopesantren memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas hingga ke negara-negara lain. Ia menyebut adanya peluang untuk memperluas jejaring kerja sama dengan institusi di Thailand Selatan dan Filipina Selatan, yang menurutnya juga memiliki komunitas Muslim yang dapat menjadi bagian dari pengembangan kerja sama di masa mendatang.
Bagi Prof. Ernawati, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki posisi yang strategis karena kedua negara memiliki kedekatan budaya dan keagamaan yang dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan berbagai program bersama. Karena itu, kemudahan untuk membangun kerja sama seperti yang dilakukan melalui program Ekopesantren perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat lebih luas.
Menutup sambutannya, Prof. Ernawati berharap Lawatan Kerja Program Ekopesantren Indonesia–Malaysia antara YDSM dan FBP UNAS dapat berjalan lancar dan menghasilkan penguatan kerja sama yang berkelanjutan. Ia juga berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, lingkungan, dan pengembangan pesantren.
YDSM Malaysia Belajar dari Pengalaman Ekopesantren UNAS
Sementara itu, Datuk H. Muhammad Fadli bin Yusuf, selaku anggota Lembaga Pemegang Amanah YDSM, menyampaikan apresiasi atas sambutan dan penerimaan UNAS terhadap delegasi Malaysia.
Ia menjelaskan bahwa YDSM merupakan lembaga yang didirikan oleh Sultan Mizan dan memiliki perhatian terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan, agama, kebudayaan, sosial ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan.
Dalam konteks keberlanjutan, YDSM saat ini mengembangkan perhatian terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di berbagai institusi pendidikan Islam di Terengganu. Salah satu bentuknya adalah penyelenggaraan kompetisi yang mendorong sekolah agama, pusat tahfiz, dan institusi pendidikan Islam untuk menerapkan praktik keberlanjutan dalam pengelolaan lembaga mereka.

Menurut Datuk Muhammad Fadli, pengalaman UNAS dalam mengembangkan program Ekopesantren menjadi salah satu alasan penting bagi YDSM untuk melakukan lawatan kerja ke Indonesia. Melalui kunjungan tersebut, YDSM ingin mempelajari praktik yang telah dikembangkan UNAS serta melihat kemungkinan pengembangan indikator dan model penilaian yang dapat diterapkan secara lebih luas.
“Kedatangan kami ini kami ingin belajar di mana kita boleh tambah baik,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar pengalaman yang diperoleh melalui lawatan kerja tersebut dapat menjadi dasar pengembangan kerja sama yang lebih luas antara YDSM dan UNAS, termasuk kemungkinan kunjungan lanjutan ke Terengganu untuk melihat secara langsung implementasi program yang telah dilakukan YDSM di Malaysia.
Pengembangan Ekopesantren Berbasis Pendidikan dan Lingkungan
Dalam presentasi program, Taufik M. Mulyana menjelaskan bahwa PPI UNAS dan FBP mulai mengembangkan program Ekopesantren sejak 2021 dan kemudian meluncurkannya pada 2022. Program tersebut dirancang untuk memperkuat berbagai inisiatif lingkungan yang telah berjalan di pesantren sekaligus mendorongnya menjadi bagian dari tata kelola pesantren secara lebih sistematis.
Program Ekopesantren UNAS memiliki 10 indikator utama, yaitu kurikulum berbasis lingkungan, fikih lingkungan, peningkatan sumber daya manusia bidang lingkungan, pengelolaan lahan pesantren, konservasi dan pengelolaan air, pola hidup sehat serta pengelolaan limbah dan sampah, energi terbarukan, transportasi, dan biodiversitas di lingkungan pesantren.
Dalam implementasinya, pesantren juga didorong melakukan asesmen mandiri melalui web tracking Ekopesantren, melengkapi bukti kegiatan, serta mengembangkan keunggulan masing-masing sesuai potensi yang dimiliki. Setelah melalui proses pendampingan dan penilaian, UNAS menyelenggarakan Anugerah Ekopesantren pada 4 Juni 2024 di Kampus UNAS Jakarta.
Berbagai program pendampingan tersebut mencakup ketahanan pangan dan obat, pemberian bibit dan penanaman pohon, energi terbarukan, penelitian mahasiswa di pesantren, hingga edukasi biodiversitas dan pengamatan satwa bersama para santri. Salah satu pesantren yang menjadi bagian dari program tersebut adalah Tahfidz Al-Qur’an Daarul ‘Ulum Lido.
Kunjungan Lapangan ke Pesantren Daarul Uluum Lido
Rangkaian Lawatan Kerja Program Ekopesantren Indonesia–Malaysia kemudian dilanjutkan pada Selasa, 11 Agustus 2026 melalui kunjungan lapangan dan benchmarking implementasi Program Ekopesantren di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, Bogor, Jawa Barat.
Kunjungan tersebut mempertemukan rombongan FBP dan PPI UNAS bersama delegasi YDSM untuk melihat secara langsung penerapan berbagai praktik Ekopesantren di lingkungan pesantren. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi delegasi YDSM untuk memperoleh gambaran mengenai implementasi program yang selama ini dikembangkan UNAS bersama jejaring pesantren.
Daarul ‘Uluum Lido sendiri merupakan salah satu pesantren yang telah terlibat dalam program Ekopesantren UNAS. Dalam pengembangan program tersebut, pesantren ini antara lain mendapatkan dukungan untuk pengembangan greenhouse tanaman obat, serta menjadi salah satu lokasi kegiatan edukasi biodiversitas dan pengamatan satwa bersama santri.
Melalui kunjungan lapangan ini, benchmarking tidak hanya diarahkan pada pertukaran informasi, tetapi juga pada pengamatan langsung terhadap praktik pengelolaan lingkungan, pemanfaatan lahan, edukasi lingkungan kepada santri, serta berbagai potensi pengembangan program keberlanjutan di lingkungan pesantren.
Dengan adanya lawatan kerja dan benchmarking ini, UNAS melalui FBP dan PPI bersama YDSM diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pengembangan Ekopesantren di Indonesia dan Malaysia. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi langkah strategis untuk mendorong lembaga pendidikan Islam agar semakin berperan dalam menjaga lingkungan dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (*Dimas Wijaksono)


