Malaysia Gelar Konferensi WCIT 2026, Akademisi RI Ungkap Islam Jadi Fondasi Etika Kesehatan Publik

REPUBLIKA.CO.ID,IPOH, MALAYSIA – The 8th World Conference on Islamic Thought and Civilization (WCIT 2026) dihelat di Ipoh, Malaysia, pada Selasa-Rabu(21-22/7/2026). Dalam hari kedua yang digelar pada Kamis, sesi Public Health: Hygiene and Sanitation menyoroti kontribusi nilai-nilai Islam dalam memperkuat kesehatan masyarakat.

Forum internasional yang mengusung tema “Where Everyone Matters: Pride & Unity in Islam” ini mempertemukan para cendekiawan, ilmuwan, ulama, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas kontribusi pemikiran Islam dalam menjawab tantangan global.

Acara ini diresmikan dan dibuka oleh Sultan Perak Sultan Nazrin Muizzuddin Shah, Deputy Perdana Menteri  Datuk Seri Fadillah Yusof, dan  Menteri Pendidikan Tinggi Dato’ Seri Diraja Dr. Zambry Abd Kadir.  Sejumlah ilmuwan dan tokoh dunia turut menjadi pembicara dalam konferensi ini, di antaranya tokoh pendidikan tinggi dunia; serta sejumlah akademisi internasional dari berbagai universitas terkemuka.

Baca juga: Universitas Nasional dan Kemenag Luncurkan Program Ekopesantren di Wilayah Jawa dan Sumatera

Dari Indonesia, hadir Prof Dr Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015 dan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2014–2015, yang dikenal sebagai salah satu cendekiawan Muslim berpengaruh di tingkat global.

Dalam forum tersebut, Dr Fachruddin M. Mangunjaya, Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional (Unas) sekaligus Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI) Unas, mempresentasikan hasil riset bertajuk “Evolving Islamic Faith Practices and Perspectives for WASH: From Ritual Purity to Inclusive Public Health and Sustainable Development.”

Dalam paparannya, Fachruddin menjelaskan bahwa ajaran Islam telah meletakkan fondasi yang sangat kuat bagi praktik Water, Sanitation and Hygiene (WASH). “Praktik wudhu, kebersihan diri, dan nilai menjaga kemaslahatan merupakan bagian dari etika kesehatan publik dalam Islam,”kata dia lewat keterangan tertulis, Kamis(23/7/2026).

Tantangan saat ini, ujar dia, mentransformasikan praktik kebersihan yang bersifat individual menjadi gerakan kolektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan inklusi sosial.

Ia kemudian memaparkan pengalaman riset PPI UNAS bersama mitra internasional di Indonesia, Bangladesh, dan Nepal yang mengintegrasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam program perubahan perilaku higiene dan sanitasi. Melalui khutbah Jumat, kegiatan masjid, pendidikan di pesantren, dan diskusi masyarakat, pendekatan berbasis agama terbukti mampu meningkatkan kebiasaan mencuci tangan, praktik sanitasi yang lebih baik, serta pengelolaan kebersihan rumah tangga dibandingkan pendekatan promosi kesehatan konvensional.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa lembaga keagamaan dapat menjadi pusat komunikasi kesehatan yang efektif karena didukung oleh kepercayaan masyarakat. Fachruddin juga menyampaikan hasil penelitian terbaru PPI UNAS yang dipublikasikan dalam International Journal of Hygiene and Environmental Health (2026) mengenai kesenjangan akses informasi kesehatan bagi penyandang disabilitas dan kelompok lanjut usia.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa program higiene dan sanitasi harus dirancang secara lebih inklusif agar tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam memperoleh informasi maupun layanan kesehatan.

Menutup presentasinya,  Fachruddin menegaskan pendekatan berbasis agama mampu memperkuat perubahan perilaku karena dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab moral, dan partisipasi masyarakat. Ia mengajak dunia Islam untuk mengembangkan pemahaman tentang kebersihan yang tidak hanya berhenti pada ritual kesucian, tetapi juga diwujudkan dalam pembangunan masyarakat yang lebih sehat, tangguh, dan berkeadilan.

Kehadiran Fachruddin pada WCIT 2026 semakin menegaskan kontribusi Universitas Nasional dalam membawa hasil riset Indonesia ke panggung akademik internasional melalui pendekatan yang mengintegrasikan sains, kesehatan masyarakat, dan nilai-nilai Islam.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/tiltdk483/malaysia-gelar-konferensi-wcit-2026-akademisi-ri-ungkap-islam-jadi-fondasi-etika-kesehatan-publik-part2

Translate »